Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jakarta, Cacing bisa hidup dalam tubuh manusia dan
memakan nutrisi dari dalam tubuh. Kejadian ini disebut sebagai cacingan
dan merugikan tubuh, bahkan bisa berakibat kematian. Namun, penelitian
baru-baru ini menemukan bahwa cacing bisa berguna mengobati penyakit
paru-paru dan menyembuhkan luka.
Cacing
parasit pada usus telah menginfeksi lebih dari satu miliar manusia di
seluruh dunia dan membunuh ratusan juta orang per tahun. Namun, cacing
juga bisa memicu kinerja elemen penting dalam sistem kekebalan tubuh
yang bertanggung jawab memperbaiki jaringan rusak dan mengurangi
peradangan.
"Cacing
hidup ini dapat digunakan suatu hari nanti untuk mengobati cedera
paru-paru serius yang disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan,
seperti pneumonia," kata peneliti, William Gause dari New Jersey Medical
School di Newark, New Jersey
Gause dan rekannya mempelajari cacing pada hewan pengerat yang disebut Nippostrongylus brasiliensis.
Cacing ini mirip dengan cacing tambang yang menginfeksi lebih dari 700
juta manusia, terutama di negara berkembang. Siklus hidup N. brasiliensis serupa dengan cacing tambang.
Cacing
memasuki tubuh inang lewat kulit, biasanya pada kaki, atau melakukan
kontak dengan larva cacing dalam tinja yang terdapat dalam lumpur atau
air. Larva mengalir dalam sistem peredaran darah ke paru-paru, melewati
trakea atau tenggorokan, tertelan di kerongkongan dan kemudian masuk
dari lambung ke usus kecil, dimana larva tumbuh menjadi cacing dan
menyebarkan jutaan telur.
Organ
yang mengalami kerusakan parah akibat ulah cacing ini adalah paru-paru.
Dalam proses evolusi, tubuh manusia telah mengembangkan cara yang unik
untuk meminimalkan kerusakan yang dilakukan oleh cacing tambang dan
sejenisnya.
Tim
Gause menemukan protein dalam sistem kekebalan yang disebut sitokin.
Protein ini membantu mengusir cacing usus di paru-paru tikus dan juga
memicu penyembuhan.
Sitokinin
memobilisasi berbagai elemen sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi
peradangan, membersihkan kuman-kuman menular, sekaligus merangsang
protein dan faktor pertumbuhan lain agar cepat memperbaiki jaringan
paru-paru yang rusak.
Dalam sebuah laporan penelitian yang dimuat jurnal Nature Medicine, Gause mengatakan bahwa apa yang terjadi pada tubuh tikus akibat N. brasiliensis bisa
juga terjadi pada manusia yang terkena cacing parasit. Jika demikian,
cacing-cacing ini bisa lebih efektif dalam memicu respon kekebalan tubuh
untuk menyembuhkan tubuh dari dalam dibandingkan dengan obat-obatan.
"Cacing
meningkatkan respon penyembuhan luka, mencegah peradangan yang
berbahaya, dan memperbaiki luka. Mekanisme ini mungkin merupakan hasil
evolusi dalam tubuh inang untuk mengurangi efek berbahaya dari kerusakan
jaringan yang cukup berbahaya akibat parasit multiseluler yang dapat
berpindah lewat organ-organ penting. Dalam hal ini, parasit dapat
digunakan untuk mengobati cedera paru-paru akut," kata Gause seperti
dilansir LiveScience, Senin (16/1/2012).
Penggunaan
cacing atau cacing parasit untuk mengobati gangguan kekebalan tubuh
disebut terapi cacing dan bukanlah hal baru. Penelitian mengenai
penggunaan cacing hidup untuk mengobati beberapa peradangan dan gangguan
autoimun seperti penyakit Crohn sedang dilakukan.
Penelitian ini menggunakan parasit non-manusia, yang paling sering adalah cacing Trichuris suis, sejenis cacing cambuk pada babi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar